Ulamayang berpandangan bahwa langit lebih mulia dari bumi beralasan diantaranya : 1. Allah telah menghiasi langit dengan bintang, matahari, rembulan, arsy, kursy, lauh mahfudz, dan qalam. Selain itu langit merupakan tempat beribadah para malaikat, dan di langit tidak ada tempat untuk melakukan maksiat. 2.
AmirulMukminin a.s. berkata: “Ujub terdiri atas beberapa derajat, di antaranya adalah ujub yang memperindah perbuatan buruk pada manusia sehingga ia menganggapnya sebagai perbuatan baik.” Orang kafir, munafik, musyrik, ateis, pemilik sifat dan watak buruk, atau ahli maksiat dan dosa adakalanya sampai pada tingkat mengagumi dan ujub dengan semua
SurgaBagi si Ahli Maksiat: 98 Kisah Islami yang Menggugah dan mereka juga mengutamakan orang-orang yang berhijrah itu lebih daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan kekurangan dan amat berhajat. ..” Dengan demikian, ibadah dan akhlak merupakan pasangan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Ibadah dan
SebagaimanaAbu Bakar ash-Shiddiq adalah seorang pebisnis, ahli ibadah, dan ahli ilmu. Demikian halnya Abdurrahman bin Auf. Namun apabila ia tidak memiliki kemampuan untuk mengumpulkan keduanya maka ibadah lebih berhak untuk ia utamakan.” (Siyaru A’lam an-Nubala’, 2/338) Kedua: Kuat dalam Beribadah
50ahli Armada sertai UMNO Temerloh. Oleh HARIS FADILAH AHMAD. 2 Julai 2022, 2:23 pm. TEMERLOH -Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) Bahagian Temerloh hari ini menerima tamparan apabila seramai 50 orang yang terdiri daripada ahli Angkatan Bersatu Anak Muda (Armada) tampil beramai-ramai untuk menyertai UMNO. Lebih menarik, mereka yang
GolonganSyiah, di antara mereka adalah Rafidhah yang bersikap melewati batas berkaitan dengan hak ahli bait Nabi, seperti kepada Ali bin Abi Thalib dan anak-anaknya Radhiyallahu anhum. Mereka mengatakan bahwa Ali adalah orang yang ma’sh û m , orang yang mengetahui perkara ghaib, lebih mulia daripada Abu Bakar z dan Umar Radhiyallahu anhu.
UU9eq. Banyak kisah terdahulu yang bisa kita jadikan pelajaran hidup. Salah satunya kisah ahli ibadah yang pahalanya dihapus oleh Allah kitab Fathul Muin, Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari menceritakan kisah ahli ibadah yang bertemu dengan ahli maksiat pada zaman Nabi terdahulu. Simak ya kisahnya!Suatu ketika ada seorang ahli maksiat yang sangat durhaka. Ia juga tidak pernah beribadah selama tiba-tiba hidayah Allah datang kepada dirinya. Si ahli maksiat merasa berdosa dan ingin bertaubat. Ia sadar bahwa dirinya telah ia pun mendatangi sebuah majelis dan ingin belajar di tempat tersebut. Di dalam majelis ini ada seorang ahli ibadah. Ia sangat rajin beribadah seperti salat, puasa, mengaji, dan amalan-amalan saleh ketika si ahli maksiat yang sudah bertaubat itu masuk ke dalam majelis, si ahli ibadah ini malah merasa tidak ahli ibadah merasa si ahli maksiat tak pantas di majelisnya. Terdapat kesombongan di dalam hatinya karena merasa banyak beribadah dan menjadi orang dilansir Muslim Moderat, bahkan si ahli maksiat itu akhirnya diusir oleh si ahli ibadah. Dengan perasaan yang sedih, akhirnya ahli maksiat ini pergi meninggalkan majelis. Kemudian, tak lama setelah kejadian tersebut Malaikat Jibril turun dan menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada Nabi."Wahai Nabiyullah, sesungguhnya Allah telah mengampuni si ahli maksiat, sekaligus menghapus segala amal si alim. Ketahuilah, bahwa Allah lebih dekat kepada ahli maksiat yang rendah diri. Dibandingkan kepada orang alim yang sombong," kata Malaikat Jibril kepada ahli ibadah ini hendaknya jadi renungan dan pelajaran kita semua. Jangan sampai dengan beribadah kita merasa lebih baik dan lebih beriman daripada orang lain sebab itu adalah sifat riya dan sombong.
Bagaimana bisa seorang ahli ibadah lebih buruk dari pada mereka yang ahli zina, ahli judi, ahli mabuk-mabukan, dan ahli maksiat lainnya? Seperti yang dikisahkan, seseorang yang dijuluki Khali’ yaitu seorang pemuda yang suka berbuat kemaksiatan besar. Pada suatu waktu ia bertemu dengan seorang abid, yakni seorang yang taat beribadah dari kaum Bani Israil. Lalu si khali’ berkata, “Aku adalah seorang pendosa yang suka berbuat kemaksiatan, sementara orang itu adalah seorang abid, sebaiknya aku duduk disebelahnya, dan Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadaku dan memaafkan dosaku.” Kemudian si khali’ duduk disebelah si abid. “Aku adalah seorang yang taat beribadah, sementara pria ini adalah seorang yang amat suka berbuat kemaksiatan, pantaskah aku duduk bersebelahan dengannya?” gumam si abid. Dan tiba-tiba si abid memaki serta menendang si khali’ hingga jatuh tersungkur. Lalu Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW mengenai peristiwa ini. “Perintahkanlah kepada kedua orang ini yaitu abid dan khali’ untuk memperbanyak amal mereka. Sesungguhnya Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’ dan menghapus semua amal ibadah abid.” Dengan demikian semua dosa-dosa yang pernah diperbuat oleh si ahli maksiat menjadi terhapuskan karena ia merasa takut kepada Allah SWT atas semua dosa yang telah dilakukannya, sementara Allah SWT menghapuskan semua amal ibadah yang telah dikerjakan oleh si ahli ibadah karena sifatnya yang sombong dan merasa dirinya lebih mulia dibandingkan si ahli maksiat. Apa yang sebenarnya membuat kedudukan si alim lebih rendah daripada si maksiat adalah sikapnya yang begitu menyombongkan diri dan menganggap mulia dirinya. Sedangkan seseorang yang suka bermaksiat itu menyadari dan menimbulkan rasa hina pada dirinya sendiri. Apalagi ahli ibadah juga menghakimi dan menghujat bahwa orang yang bermaksiat itu tidak pantas duduk bersandingan dengannya. Padahal hanya Allahlah yang pantas untuk memberi penghakiman terhadap orang lain. Hal ini tentunya dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, Sedikit amal bisa membuat kita memandang rendah orang lain. Sedikit amal membuat kita menjadi hakim atas tindakan benar-salahnya orang lain. Sebuah kisah yang hampir sama juga diceritakan di dalam kitab Sittuna Qishshah yaitu “kisah ahli ibadah yang masuk neraka dan ahli maksiat yang masuk surga”. Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya. Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, Berhentilah dari berbuat dosa.’ Dia menjawab, Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.’ Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni oleh-Nya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.’ Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul’Alamin. Allah ta’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.’ Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmat-Ku.’ Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, Masukkan orang ini ke neraka’.” HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd, dan Ibnu Abi Dunya dalam Husn Az-Zhan, dan Al-Baghawi Syrah As-Sunnah Kedua cerita di atas sama- sama mengajarkan bahwa seseorang yang mulia dan lebih tinggi derajatnya tidak hanya dilihat dari banyak atau sedikitnya dosa, tapi juga dilihat implikasi atau dampak dari amal itu. Jika dia yang banyak amal baiknya menjadi takabur dan sombong tentunya semua amal itu akan lenyap. Sedangkan jika si pendosa merasa bersalah dan berusaha untuk bertobat maka akan musnahlah seluruh dosanya. Rasulullah SAW bersabda “Jika kalian tidak pernah melakukan dosa, niscaya sesungguhnya yang paling ditakutkan pada kalian adalah yang jauh lebih dahsyat yaitu ujub merasa kagum pada diri sendiri.” HR. Imam Ahmad Seperti yang sudah banyak diceritakan, kesombongan selalu membawa bahaya dan menghilangkan segala kemuliaan. Bahkan seorang yang maksiat saja bisa lebih baik dari ahli ibadah apabila sang ahli ibadah dibutakan dengan kesombongannya. Sedangkan seorang yang maksiat menyadari begitu rendahnya dia dan mengakui dosanya. Wallahu a’lam.
Semoga kisah dibawah ini bisa membuka cakrawala hikmah dalam hati kita yang selama ini terkunci. Alkisah, ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali’, orang yang gemar berbuat maksiat besar. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang abid dari kaum Bani Israil, orang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung mika. Kemudian Khali’ bergumam, “Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengannya, semoga Allah memberi rahmat kepadaku.” Lalu si Khali’ tadi duduk di dekat si abid. Lantas si abid pun bergumam, “aku adalah seorang abid yang alim, sedangkan dia adalah khali’ yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?” Tiba-tiba saja si abid menghujat dan menendang si khali’ hingga terjatuh dari tempat duduknya. Lalu Allah memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, “Perintahkan dua orang ini yakni abid dan khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’, dan menghapus semua amal ibadah abid.” Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan abid tersebut kepada khali’. Kisah itu sejatinya menjadi cambuk bagi kita. Seringkali kita merasa bangga dengan ibadah dan amal saleh yang telah dikerjakan. Namun itu menjadi sia-sia karena dengan kebanggaan itu lantas menghujat dan menghakimi orang lain. Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab al-Hikam menegaskan bahwa, “Maksiat yang melahirkan rasa hina pada dirimu hingga engkau menjadi butuh kepada Allah, itu lebih baik daripada taat yang menimbulkan perasaan mulia dan sombong atau membanggakan dirimu.” Dengan kata lain, hina dan butuh kepada Allah keduanya adalah sifat orang yang menghamba. Adapun mulia dan agung adalah sifat Tuhan, sehingga tidak ada kebaikan bagi seorang hamba yang taat tapi menimbulkan perasaan mulia dan agung, sebab keduanya adalah sifat Tuhan. Tawadhu-nya orang yang berbuat maksiat dan perasaan hina dan takut kepada Allah, itu lebih utama daripada takabbur-nya orang alim atau orang yang abid. Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa agar tidak putus asa terhadap ampunan Allah. Bahkan orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa paling hebat, suci, mulia dan sombong dengan ibadahnya. Rasulullah bersabda, “Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu ujub kagum pada diri sendiri.” HR Imam Ahmad Sifat merasa hina dina adalah wujud kehambaan kita. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya manakala ia merasa lebih mulia, sombong, ujub, hebat dibanding yang lainnya. Kita berlindung pada Allah dari segala bentuk kesombongan dan merasa lebih baik dari yang lain.. Wal iyaadzu billah..
ALKISAH, ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali’, orang yang gemar berbuat maksiat besar. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang abid dari kaum Bani Israil, orang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung mika. BACA JUGA Suami yang Beribadah kepada Allah Sepanjang Malam Kemudian Khali’ bergumam, “Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengan ny, semoga Allah memberi rahmat kepadaku.” Lalu si Khali’ tadi duduk di dekat si abid. Lantas si abid pun bergumam, “aku adalah seorang abid yang alim, sedangkan dia adalah khali’ yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?” Tiba-tiba saja si abid menghujat dan menendang si Khali’ hingga terjatuh dari tempat duduknya. BACA JUGA Mengirim Gambar Porno dari Dalam Kubur Lalu Allah memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, “Perintahkan dua orang ini yakni abid dan khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’, dan menghapus semua amal ibadah abid.” Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan abid tersebut kepada khali’. [] SUMBER KABARMEKKAH
Ilustrasi ahli ibadah - Image from berbangga diri karena amalanmu Apalagi jika sampai merendahkan orang lain yang dinilai jauh lebih buruk dibandingkan dengan dirimu. Berikut adalah kisah yang menohok, saat Allah SWT mengangkat derajat ahli maksiat dan menghapus amalan ahli ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali'. Khali adalah seorang yang gemar berbuat maksiat besar. Suatu ketika ia bertemu dengan 'Abid dari kaum Bani Israil. 'Abid adalah seorang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung Khali' bergumam, "Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah 'abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengannya, semoga Allah memberi rahmat kepadaku."Kemudian berjalanlah Khali' tadi lalu duduk di dekat si 'abid. Lantas si 'abid pun bergumam, "aku adalah seorang 'abid yang alim, sedangkan dia adalah khali' yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?" Tiba-tiba saja si 'abid menghujat dan menendang si Khali hingga terjatuh dari tempat Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, "Perintahkan dua orang ini yakni 'abid dan khali' untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali', dan menghapus semua amal ibadah 'abid." Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan 'abid sang ahli ibadah kepada khali' sang ahli maksiat. Hikmah Kisah Khali' dan 'Abid Kisah sederhana ini nyatanya memberikan pelajaran yang mendalam serta cambuk bagi kita. Seringkali kita merasa bangga dengan ibadah dan amal saleh yang telah dikerjakan sehingga seolah mudah menghakimi orang lain buruk dan rendah. Sesungguhnya, saat kita berani menganggap orang lain lebih buruk dari kita, keimanan dan ketaqwaan kita masih dipertanyakan dan bahkan diragukan. Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab al-Hikam menegaskan bahwa, "Maksiat yang melahirkan rasa hina pada dirimu hingga engkau menjadi butuh kepada Allah, itu lebih baik dibandingkan dengan ketaatan yang menimbulkan perasaan mulia dan sombong atau membanggakan dirimu."Oleh sebab itu, hina dan butuh kepada Allah keduanya adalah sifat orang yang menghamba kepada-Nya. Sementara itu sifat mulia dan agung adalah sifat Tuhan, sehingga tidak ada kebaikan bagi seorang hamba yang taat tapi berbangga diri dan merasa agung selayaknya JUGAKisah Ahli Ibadah, Selama 220 Tahun Tak Pernah Maksiat, Tapi Mati dalam Keadaan KafirTawadhu-nya orang yang berbuat maksiat dan perasaan hina dan takut kepada Allah, itu lebih utama dibandingkan dengan takabbur-nya orang alim atau orang yang 'abid. Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa supaya tidak putus asa terhadap ampunan Allah orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah yang merasa paling hebat, suci, dan mulia kemudian menjatuhkan orang-orang yang rendah menurut pandangannya. Rasulullah bersabda, "Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu 'ujub kagum pada diri sendiri." HR Imam AhmadSifat hina dina adalah wujud sifat menghamba yang seharusnya dimiliki oleh setiap umat Islam. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya apabila ia merasa lebih mulia, sombong, ujub, hebat dibandingkan dengan lainnya. Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari sikap ujub atau membangga-banggakan diri dan merendahkan orang lain dengan mudahnya. Berikut adalah salah satu perkatan Imam An Nawawi mengenai cara untuk menghilangkan kebanggan diri yang bisa menjerumuskan kita. “Cara menghilangkan kebanggaan ialah dengan mengingatkan dirinya bahwa dia tidak mencapai hal itu dengan daya dan kekuatannya. Namun itu merupakan anugerah dari Allah ﷻ, dan tidak patut baginya untuk berbangga karena sesuatu yang tidak diciptakannya, semata-mata itu merupakan anugerah dari Allah ﷻ.” Imam an-Nawawi, at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qur`ân, Dar el-Minhaj, halaman 70Memahami dan menyadari bahwa semua pencapaian dan semua amalan yang kita lakukan tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan Allah SWT membuat diri kita merendah dihadapan-Nya. Serta menjauhkan diri kita dari rasa ujub atau berbangga diri dan menilai orang lain lebih buruk. islam ahli maksiat ahli ibadah kisah hikmah ujub
ahli maksiat lebih mulia daripada ahli ibadah